Member Of

KEB

Kamis, 15 Agustus 2013

Gunung Pegat

   
Salah satu sisi gunung pegat




         Di pinggiran kampungku yang bernama Klile ada beberapa bukit yang terhampar memanjang . Tapi warga sekitar tidak ada yang menyebutnya dengan nama bukit. Semua disebut gunung.  Di bawah bukit - bukit merupakan area persawahan milik warga sekitar yang sangat luas. Saya mencoba mengingat-ingat nama bukit yang dulu kami pakai untuk 'ngangon' ternak (kambing) hehe yaitu Gunung Batok ,Gunung pegat, dan gunung Majan. Itu saja yang saya ingat.  Libur lebaran lalu saya mengunjungi salah satu bukit itu yaitu Gunung Pegat. Gunung Pegat menjadi salah satu gunung favorit warga sepertinya. Karena sudah lama tidak melakukan hiking,ngos-ngosan juga saya ketika mencapai puncak bukit ini. Meskipun cuaca tidak menentu (kadang panas,kadang hujan) namun rumput dan pepohonan di Gunung Pegat menghijau. Pepohonan menghijau mengasilkan udara segar nan sehat di dusun Klile yang masuk wilayah kelurahan Karangasem kecamatan Bulu, kabupaten Sukoharjo,Provinsi Jawa Tengah ini.

Hutan yang menghijau. Lestari. 


   
Menyusuri hutan menuju bukit
 Jalan setapak yang saya lalui untuk menuju puncak bukit cukup 'tricky'. Beberapa kali saya tergelincir. Butuh keseimbangan tubuh memadai untuk sampai di atas bukit dengan selamat. Seingat saya, bukit itu disebut Gunung Pegat karena letaknya terpisah dengan gunung Majan di sebelahnya. Pegat = pisah. Sejarah detailnya saya enggak tahu. googling pun nihil. Wah kurang ngetop ternyata hehe.



Jalan mendaki ke bukit


     
Watu Sepur
Tujuan pertama saya adalah Watu Sepur yaitu sebuah batu memanjang mirip sepur (kereta api) . Tapi ketika saya amati,sih gak mirip-mirip amat dengan sepur hehe. Watu sepur itu terletak di tengah-tengah area yang lapang. Saya amati sekitar sambil bernostalgia ketika 'ngangon' kambing di sana. Wah, ini sebenarnya lokasi potensial untuk tempat wisata alam. Coba,ya dikelola dengan baik pasti banyak wisatawan luar desa yang datang. Hal ini bisa mendatangkan income bagi warga sekitar. Modalnya memang enggak kecil,sih. Tapi setahu saya, warga sekitar yang potensial (putra putri terbaik)  jarang yang tinggal di kampung halaman. Mereka menjadi kaum perantau ke kota-kota besar. Saya juga kaum perantau,sih tapi saya,kan warga biasa hehe.

Puncak Dosomuko

    Berjalan menuju sebuah batu besar yang oleh warga disebut Gunung Dosomuko, kita akan menyaksikan keindahan alam yang luar biasa apalagi bila melihat ke bawah, ke area persawahan. Sebuah view yang indah untuk diabadikan. Word can't describe,deh. Saya agak lupa kenapa disebut Gunung Dosomuko. Seingat saya Dosomuko itu nama tokoh pewayangan. Mungkin bentuknya mirip dengan Dosomuko maka disebut Gunung Dosomuko.

Area persawahan di bawah bukit

Tandur atau menanam padi. Dulu juga kulakukan hehe.


     Sebenarnya masih ingin ke Gunung Batok yang memang mirip batok kelapa dibelah dua tapi sayang sekali sudah sangat lelah. Maklum sudah emak-emak apalagi bawa pasukan kecil yang minta digendong. Kurang puas,sih memotret keindahan Gunung Pegat dan sekitarnya tapi apa daya. Semoga liburan lebaran tahun depan bisa mengunjungi gunung yang penuh kenangan ini hehe.

Sampai jumpa ditulisan saya berikutnya.

4 komentar:

  1. Wah mantab bu,kalo pulang kampung mau nyempetin ke gunung gak sempet juga,harusnya sekalian sumur yang disebelah barat juga diambil gambarnya,sekalian buah duwet'e

    BalasHapus
  2. ra enek duwet. asem ae ora uwoh. ono branjangan tp ora uwoh.

    BalasHapus
  3. foto sumber juga bagus hlo bu, juga ambil foto sunrice cuakep juga. tp sayang sekarang kicauan burung dah gak kaya dulu th90'an.

    BalasHapus
  4. kl ke perkamungan gini suasananya masih seger, ya :)

    BalasHapus